Posted in Buku, Hobi

(Review) Muhammad: Sang Penggenggam Hujan #1

Halo halo. Aku kembali dengan membawa sebuah cerita tentang kesanku setelah membaca sebuah buku. Hobi membaca buku novelku sudah lama hilang (waktu SMP), dan sekarang aku sedang menggalakkan hobi membacaku lagi.

Sejak lama sebenarnya aku pengen lebih memahami sejarah Islam, terutama tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam. Tapi baru keturutan sekarang. Dulu pernah sih belajar waktu masih sekolah, tapi nggak pernah mudeng alias nggak ngerti. Dan alhamdulillah mas Tasaro mau menulis buku biografi Nabi dengan gaya novel yang lebih detail seperti keinginanku. Kebanyakan buku biografi tentang Nabi emang bergaya buku sejarah (sepertinya, aku belum pernah baca sih selain buku pelajaran sejarah Islam😀 ). Anak muda mana sih yang nggak pengen baca buku sejarah dengan gaya novel yang penuh dengan tantangan untuk berimajinasi. Dan akhirnya aku menemukan buku ini.

Lihat review di goodreads banyak yang memuji buku ini. Berbekal itu lah akhirnya aku nekat beli langsung semua serinya nggak tanggung-tanggung.

IMG_20160716_153800

Cerita diawali dengan kisah seorang tokoh bernama Kashva. Mungkin kalau kalian baca review atau sinopsisnya, pasti tidak asing dengan nama ini. Awalnya emang ekspektasiku tentang buku biografi ini full cerita tentang perjuangan Rasulullah SAW, dan cerita ‘sampingan’ Kashva hanya sedikit. Nyatanya sampai akhir, cerita tentang Kashva-lah yang lebih banyak porsinya.

Awalnya aku agak nggak terlalu tertarik dengan cerita si Kashva ini, karena tujuan utamaku kan pengen tau tentang Islam. Tapi lama kelamaan malah cerita Kashva yang semakin menarik. Dan bisa aku ambil kesimpulan kalau tokoh Kashva ini seperti sudut pandang agama / ajaran lain tentang kenabian Rasul. Aku kurang tau juga apa memang ada ajaran yang dibawa oleh Kashva (Zardust) atau hanya fiktif (maaf atas keterbatasan ilmuku). Tapi jika memang ada, berarti ini sebagai tanda bahwa sebenarnya memang semua agama itu saling berkesinambungan dalam meramalkan kehadiran nabi terakhir.

Kesan

Sampai baca setengah buku, minat bacaku masih belum terlalu menggebu. Masih santai, adem ayem. Namanya juga baca cerita awal, butuh waktu untuk lebih mengenal alur ceritanya. Apalagi cerita yang lebih banyak cerita tentang si Kashva ini, yang sepertinya adalah tokoh fiksi buatan Tasaro. Tapi setelah paruh kedua buku, rasa penasaran sudah mulai menggerogotiku. Rasanya nggak pengen berhenti membaca sampai tau kejadian apa selanjutnya. Sampai-sampai nggak nyadar kalau kecepatan membacaku tiba-tiba naik dan lembaran halaman akhir sudah tinggal beberapa lembar lagi. Closing dari buku ini sedikit menurunkan hype-ku. Agak tidak tertarik sih, soalnya kesannya timpang banget. Dari seeerrruuuuuuuu baaaangeeeeeeeet, jadi santai lagi. Tapi namanya juga novel, alurnya pasti gitu. Yang jelas kesan terakhir baca buku ini, bener-bener bikin dada bergemuruh akan kebesaran Allah. Jadi semakin percaya bahwa semua kejadian yang ada di dunia ini sudah tertulis di lauh mahfuz, sudah ditakdirkan, sudah ditetapkan. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia belajar dari sejarah yang telah dilalui umat sebelum-sebelumnya.

Novel ini menggunakan sudut pandang kedua, jadi seakan Tasaro menceritakan kembali kisah Rasulullah yang ditujukan untuk Beliau. Kesannya seolah Tasaro sangat menghormati kisah Rasulullah, dan mengajak pembaca ikut menghormatinya.

Cerita ini dimulai dengan kejadian di mana Rasulullah SAW kecil yang dibawa oleh pamannya, Abu Thalib ke sebuah negara di Syam dan bertemu dengan seorang pendeta yang ‘membaca’ kenabian Rasulullah. Setting tempatnya mungkin ada berbagai versi. Di novel secara hormat diundang menemui pendeta di biara. Tapi dari tausiyah ustadz di radio yang aku dengar, saat itu pendetanya menerobos barisan pedagang arab dan berteriak bahwa Rasulullah kecil adalah termasuk utusan Allah. Yang jelas intinya sama sih, pendeta tersebut meminta paman Rasulullah untuk membawanya pulang ke arab.

Setelah itu kisah tentang Rasulullah diceritakan dengan singkat bagaimana kejadian di gua Hira dan kenabian Rasulullah membuatnya diusir dari Makkah dan mulai berhijrah ke Madinah. Dan ceritanya berfokus perjuangan Rasulullah di Madinah (karena emang hijrah Rasulullah paling lama di Madinah, kan?). Banyak yang bilang bahwa cerita yang dituangkan Tasaro saat perang membuat pembaca ikut merasakan perjuangan para syuhada Uhud. Ya, aku mengamini apa kesan mereka. Membaca novel ini cukup memberikan gambaran urutan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam.

Cerita di dalam novel ini tidak melulu cerita yang sering kita baca di buku sejarah atau dalam materi ceramah. Nggak heran kalau komentar tentang novel ini adalah cerita versi detail, dalam arti sebenarnya. Sering kali waktu lagi baca, misalnya kita tau cerita secara garis besar suatu kejadian, namun Tasaro mengemasnya dengan cerita yang lebih detail. Jadinya aku selalu ber-ooo dalam hati karena jadi lebih tau lebih banyak dari kejadian bersejarah tersebut. Hahaha.

Tapi nggak heran juga karena aku fakir ilmu sejarah Islam, saking banyaknya sahabat Nabi, kadang lupa nama-nama yang disebut itu siapa aja. Tapi beberapa nama selalu dijelaskan kembali oleh Tasaro sebagai siapa atau apa perannya, jadi bisa mengingat kembali.

Cerita di buku pertama ini diakhiri dengan perjanjian Hudaibiyah, yaitu perjanjian antara umat Islam dari Madinah dengan penduduk Makkah agar umat Islam dapat berhaji dan umroh ke Makkah pada tahun berikutnya. Penjelasan Tasaro membuat pembaca paham alasan penduduk A begini, penduduk B begitu. Setidaknya aku secara pribadi mendapat gambaran bahwa predikat tokoh paling berpengaruh dalam peradaban dunia layak disandang oleh Rasulullah. Bagaimana tidak, menghadapi manusia segitu banyaknya agar dapat menerima ajaran ‘baru’ dengan berbagai respon dan pemikiran manusia. Namun Rasulullah sebagai manusia paling bijak di muka bumi ini dapat menghadapi dengan baik.

Kesan terakhir setelah membaca perjuangan Rasulullah, rasa rindu ingin bertemu. Sungguh beruntung manusia pada masanya bisa mengenal Manusia Tanpa Celah. Tapi jangan berkecil hati, karena Rasulullah pernah bersabda bahwa manusia yang dianggap seperi saudaranya sendiri kelak adalah manusia setelah masanya namun merindukannya.

Semoga dengan membaca novel ini,  menjadikan amal jariyah Tasaro karena menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap Islam.

 

Author:

http://www.facebook.com/nta.s.nta https://twitter.com/#!/esshinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s