Posted in Hobi, Story of Me

[Hasil Karya Menulis] Jaman SD: Nina Berlibur di Hotel Angker (part 1)

nina

Yap, hobi lamaku waktu SMP adalah menulis cerita. Sebenarnya ketertarikanku sama dunia tulis menulis udah terbentuk sejak aku masih SD. Suatu ketika aku nemuin sebuah bukti otentik tentang imajinasiku saat kelas sekitar 4 atau 5 SD berupa secarik kertas . Judulnya “Nina Berlibur di Hotel Angker“. Dari judulnya aja udah kelihatan ah banget nggak sih. Begini ceritanya:

Setelah liburan caturwulan II, Nina diajak bertamasya dengan sekolah. Hati Nina senang sekali. “Ibu… besok aku akan berlibur dengan sekolahan!” teriak Nina. “Wah, bagus sekali, jadi liburan minggu ini tidak sia-sia.” kata Ibu. “Enak sekali kakak bisa berlibur dengan teman-teman.” kata Adi. “Kalau kamu ingin ikut juga ya nggak apa-apa.” kata Nina. “Hore!” seru Adi.

Mereka pun mulai bersiap-siap untuk esok hari.

Paginya mereka berdua diantar oleh ibunya. Sesampai di sekolah Nina bertemu dengan Lita. “Hai, Lit?” sapa Nina. “Hai juga Nin.” Balas Lita. “Kamu membawa adikmu?” tanya Nina. “Ya memang aku mengajak adikku, tetapi aku sebel sama adikku.” jawab Lita. “Hai Di kamu juga ikut kakakmu?” sapa Inung. “Hai, Nung.” jawab Adi. Ternyata Adi dan Inung satu kelas disekolahnya. “Kalau begitu kalian berdua bersama-sama saja, biar kita berdua bisa tenang.” kata Lita sambil meninggalkan Adi dan Inung.

Diperjalanan Nina dan Lita tertidur, tetapi Adi dan Inung masih saja berbincang-bincang. 5 menit kemudian Adi dan Inung juga tertidur. Pada waktu siang hari, bus berhenti karena sudah waktu makan siang. Setelah mereka dan teman-temannya kenyang, mereka langsung naik bus. Setelah perjalanan panjang, sampailah di hotel yang mereka tujui. Pada waktu itu malam hari.

Pak Dedi memesan kamar. 1 kamar dihuni 4 orang, mereka berempat yaitu Nina, Lita, Adi, dan Inung 1 kamar. Kamar mereka bernomor 72. Setelah mereka sampai di kamar mereka, Nina dan Lita langsung menuju ranjang mereka. Tetapi Adi dan Inung pergi ke kamar mandi karena mereka berdua sudah menahan sejak tadi. Kamar terdengar sepi. Setelah Adi dan Inung selesai ke kamar mandi, mereka langsung menuju ranjangnya.

Pagi harinya mereka ber-empat berebut kamar mandi. Tetapi Nina berteriak “Stop….!” Lita, Adi, dan Inung terkejut lalu mereka berhenti. Kalian tidak sadar ya, kalau kalian terus berebut, kapan kita mandinya? Sebaiknya aku dan Lita duluan yang mandi.” kata Nina. “Tidak, aku tidak setuju!” kata Adi. “Kenapa?” tanya Lita. “Seharusnya yang besar yang mengalah, tapi kenapa sebaliknya?” tanya Inung. “Karena aku dan Lita yang bangun duluan.” kata Nina. Lalu Adi dan Inung mengerti, lalu membolehkan kakak-kakaknya duluan yang mandi.

Setelah mereka berempat selesai mandi, mereka segera menuju ruang makan. Teman-temannya sudah banyak yang menunggui. Setelah sarapan dengan teman-teman sekolah, semua anak diajak jalan-jalan ke taman. Nina sepertinya melihat ada secarik kertas. Setelah diambol, lalu dibaca tulisan itu. Isinya adalah: Datanglah ke taman ini malam hari pukul 8 malam. Lalu Nina memberitahu mereka bertiga (Lita, Adi, dan Inung). Mereka heran ada apa sebenarnya ini. “Ah… mungkin ada anak iseng.” kata Lita. “Tidak mungkin, tulisannya tidak seperti anak-anak.” sambung Adi. Dan mereka berdiskusi. Setelah setuju, Inung berkata, “Bagaimana kalai kita beritahu kepada pembina kita.” Nina dan Lita bingung tetapi Adi tidak. “Sudahlah, kau jangan takut.” kata Adi.

Malam harinya…

Tap… tap… tap. Mereka berempat berjalan ke taman itu. “Se… sebaiknya ki.. ki.. ta kem..nali saja ke ka.. kamar kita.” kata Inung terbata-bata. “Kalau kamu ingin ke kamar ya sudah ke kamar aja sendirian.” kata Lita. “Trek” “Bunyi apa itu kak?” tanya Adi. “Itu bunyi kayu yang diinjak Emangnya siapa yang menginjak?” tanya Nina. “Tidak tahu.” kata Inung. “Ja.. jangan-jangan ha… hantu i… itu.” kata inung lagi. “Hi.. hi.. hi.. hi.” muncul suara tertawa. “Aaa…” mereka berempat teriak dan langsung lari menuju kamar masing-masing. Sesampainya di kamar…

Mereka terangah-engah. “Apa aku bilang, jangan ke taman itu.” kata Inung. “Iya, itu katamu karena kamu ktakutan, iya kan?” tanya Adi. Tiba-tiba tok tok tok tok. Pintu diketuk oleh orang. “Ta, buka tuh pintunya!” perintah Nina. Saat pintu dibuka oleh Lita ternyata tidak ada orang. Lalu Lita menutup pintu lagi dan kembali ke tempat duduknya. Setelah itu ada secarik kertas yang dimasukkan lewat bolongan bawah pintu. Mereka berempat terkejut lalu Nina mengambil kertas itu. Tulisannya adalah Aku akan menemui kalian berempat dari Sunderbolong. “Aaa…” teriak Nina. “Ada apa Nin?” tanya Lita. “Baca deh surat ini!” perintah Nina. Lita, Adi, Inung membacanya. Selesai membacanya, mereka bertiga berteriak dan melempar kertas itu lalu berkumpul dan memakai selimut masing-masing. Tiba-tiba kertas itu terbang sendiri. Mereka ketakutan dan berteriak “Toloong…” mereka berteriak keras sekali. Dita dan Ina yang ada di kamar sebelah kanan mereka membuka pintunya dan kertas itu jatuh seketika. “Ada apa Nin?” tanya Dita. “Ta.. ta.. tadi a.. a.. da ha.. han.. tu.” jawab Nina terbata-bata. “Ah mana mungkin ada hantu.” kata Ina. “I.. iya ta.. ta.. tadi kertas itu te.. terbang sendiri.” kata Adi terbata-bata juga. “Mungkin kamu berhalusinasi.” kata Dita. “Tidak, ka.. kami semua me.. melihatnya de.. dengan mata kepala sendiri ko.. kok.” kata Lita mulai berani. Mereka lalu keluar untuk memberitahu Pak Harry. Tetapi Inung tetap duduk. “Hei, Inung ayo kita bilang ke Pak Harry.” ajak Nina. Saat itu Inung tetap di tempatnya. “Ayo.” kata Nina sambil membuka selimutnya. “Ih, Inung ngompol.” kata Nina. Lalu teman-temannya tertawa, dan Inung ganti celana.

Setelah sampai di ruang Pak Harry, mereka menceritakan semuanya. Tetapi Pak Harry tidak percaya terhadap cerita anak-anak. Tiba-tiba lampunya mati dengan tiba-tiba. “Waaa..” teriak anak-anak. “Ssstt” kata Pak Harry. “Pengumuman, maaf ada kegangguan listrik. Dimohon siaha.” kata pengurus hotel. “Mungkin ini u.. ulah hantu.” kata Inung. “Tidak mungkin, kata pengurus hotel kan kegangguan listrik.” kata Ina. “Iya ya.” kata Adi. “Tapi Inung ada benarnya juga lo. Mungkin aja dia yang memutuskan kabelnya.” kata Nina. Lalu tiba-tiba saja kaki Pak Harry seperti ada yang memegang. “Hei, apa ada yang memegang kakiku?” tanya Pak Harry. “Tidak.” jawab anak-anak bersautan. “Jadi siapa dong yang mgang kakiku?” tanya Pak Harry. “Mungkin saja hantunya.” kata Lita. Lalu buku-buku Pak Harry jatuh sendiri. Lalu mati lampu sudah berakhir, lampu nyala lagi tapi hatu (sundelbolong) tiba-tiba berhadapan dengan Inung. Lalu Inung berteriak, setelah mereka semua tahu langsung saja lari secepat mungkin. Tetapi hantu itu tidak mengejar. Dan mereka kembali ke kamar masing-masing. “Tapi, aku takut.” kata Inung. “Sudahlah, hantunya sudah hilang.” kata Pak Harry. “Supaya kalian tidak takut, pasanglah tulisan-tulisan arab di kamarmu.” kata Pak Harry lagi. Lalu mereka pun mulai memasang tulisan arab di dinding kamar mereka.

…….. to be continued.

Gimana? Wah selama mengetik ulang sekaligus baca lagi, rasanya geli-geli gimanaaa gitu. Umur segitu udah hebatnya bikin tokoh udah kayak detektif. Tapi ada beberapa bagian yang ganjil (ya secara cerita amatir seorang anak SD). Mulai dari Adi yang bisa membedakan tulisan anak-anak dan bukan, Nina yang tahu ada suara ranting yang ‘diinjak’ dan sejak kapan hantu bisa injak ranting. Kalau secara mitos sih mereka nggak menapak kan? Terus juga si hantu dengan terang-terang menulis namanya di secarik kertas😀 ditambah iseng banget kalau dia yang motong kabel listrik, Pak Harry yang dengan polosnya seperti anak-anak ‘siapa yang megang kakiku?’, dan yang paling ha banget adalah setelah melihat hantu dengan tenang mereka kembali ke kamar masing-masing???

Yah, dari situ aku jadi tau dasar pemikiran anak usia sekolah memang kayak gitu. Tau hal-hal yang konkret aja. Itu pasti gara-gara aku suka nonton film horor Indonesia. Jamannya Suzana apa ya? Udah gitu masang tulisan arab=menangkal hantu. anggapan yang paling pertama dipercaya selama masa-masa itu.

Jadi inget masa-masa nulis cerita ini. Dulu iseng nulis waktu kelas kosong dari nyobek kertas di bagian tengah buku. Terus dengan sembunyi-sembunyi, nggak ada niat untuk kasih tau ke temen yang lain. Tapi entah siapa waktu itu, ada yang tau dan pinjem untuk dibaca. Eh responnya dia positif banget, malah ngasih tau temen yang lain buat ikutan baca. Terkenallah aku waktu itu dalam sekejap di satu kelas. Minta cepet-cepet ngelanjutin ceritanya. Dengan semangat 45 aku lanjutin deh. Senengnya!

Author:

http://www.facebook.com/nta.s.nta https://twitter.com/#!/esshinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s