Posted in Story of Me, Traveling

Backpacker (Nista) Malang – Surabaya – Jogja (Part 3 – End)

Setelah sampai di Malioboro, kami langsung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Keraton. Namun sayangnya karena masih dalam suasana sekaten, pintu gerbang keraton ditutup untuk umum. Alhasil kami tidak main ke keraton, tapi ke masjid di sebelah lapangan keraton. Aku kurang tahu juga ini masjid apa, karena nggak ada tulisan namanya (atau aku yang nggak lihat ya). Tapi yang jelas masjid ini terasa banget budaya kejawennya. Dilihat dari ukiran kayu yang ada di pilar-pilar dan ornamen masjid, juga dari bentuk masjidnya. Di luar bangunan utama terdapat semacam hall yang luas seperti teras pada rumah. Jadi nggak jarang banyak yang sekedar duduk-duduk menikmati dinginnya angin semilir, bahkan ada yang tidur.

DSC_0216

Usai mendinginkan jiwa dan raga, saatnya untuk memanjakan perut. Karena tujuan berikutnya adalah Vredeburg, kami memutuskan untuk makan didekat Pasar Beringharjo. Pasar ini adalah pasar terlengkap di Jogjakarta. Macem Tanah Abangnya Jakarta, tapi nggak seluas TA sih (kayaknya, aku juga belum pernah ke TA). Kami makan lotek dan gado-gado, yang katanya khas Jogja. Yang lain pada milih lotek, penasaran soalnya apaan sih itu. Tapi aku lagi nggak pengen makan banyak jadi aku pesen gado-gado, pengen bandingin gado-gado Malang sama Jogja. Ternyata lotek itu seperti rujak cingur tapi nggak pakai cingur. Terdiri dari sayur-sayuran dan tempe tahu disiram dengan bumbu kacang. Dan gado-gado di sini isinya banyak, beda sama gado-gado Malang yang biasanya sedikit. Tapi tetep enak makjossss…

gado
Gado-Gado Jogja

Makanan ini dibanderol sekitar 6.000-7.000 plus minum es teh atau es kelapa 3.000-4.000. Setelah kenyang, kami melanjutka perjalanan menuju Vredeburg. Di sepanjang jalan trotoar depan Vredeburg lumayan ramai anak-anak muda, mengingat saat ini memasuki musim liburan. Ada yang sekedar nongkrong bareng temen-temen, ada yang berdua, ada yang jualan sate, jualan dompet, jualan gambar tokoh-tokoh entah siapa, dan lain-lain. Kami menikmati sekali bahwa Jogja adalah kota seniman, karena hawanya terasa seperti seni ada dimana-mana. Bahkan di jalanan yang hanyalah saksi bisu berdiri kokoh sebuah patung setengah pohon setengah manusia. SENI.

Tiket masuk ke Vredeburg hanya 2.000/orang.  Kenapa sih kita harus ke sini? Vredeburg adalah museum benteng Belanda. Dulunya dimanfaatkan Belanda sebagai benteng ‘intimidasi’ terhadap keraton karena letaknya langsung menghadap ke keraton. Tapi sekarang setelah menjadi museum isinya menjadi diorama perjuangan rakyat Indonesia.

Begitu masuk ke dalam benteng, nanti kita akan disambut dengan taman dengan bangunan di sebelah kanan dan kiri. Bangunan tersebut adalah tempat diorama-diorama. Kalau terus masuk dari pintu gerbang benteng, akan ada sebuah lapangan hijau yang cukup luas dengan sebuah tiang bendera di pinggirnya. Setelah lapangan, terus lagi akan ada semacam ruang terbuka di lantai dua. Dari sini bisa terlihat pemandangan benteng.

Diorama kebakaran
Diorama kebakaran
Lorong diorama
Lorong diorama
Lapangan
Lapangan dilihat dari ruang terbuka

Benteng ini tidak hanya seluas daun kelor, atau sesempit bayangan pertama kali masuk. Karena ternyata benteng ini lumayan luas setelah kami menjelajahi sudut-demi sudut. Banyak spot-spot yang tidak terlihat namun indah. Recommended bagi yang suka foto-foto, karena gaya bangunannya masih kental dengan Belandanya. Nggak jauh beda sama almamater sekolah tugu di Malang sih (promosi).

Puas kami menjelajahi sudut-sudut benteng, kami menuju hotel untuk istirahat. Di sini kami terpisah-pisah. Ada yang ke Pasar Beringharjo cari oleh-oleh baju, ke Malioboro cari oleh-oleh makanan, ada juga yang langsung cus hotel. Aku termasuk yang langsung ke hotel, karena rencananya nanti malam kami akan datang ke upacara sekaten. Saat melewati Malioboro, kami melihat ada musisi jalanan sedang menjajakan keahlian bermusiknya dengan alat musik tradisional dan ada yang menari. Yah lumayan sebagai penghibur setelah seharian berjalan, kami meluangkan waktu sejenak untuk menikmatinya sebelum akhirnya kembali ke hotel.

IMG-20130117-00567

Rintik hujan sudah mulai turun sejak magrib. Kami menjadi urung beranjak menuju lapangan keraton menyaksikan upacara sekaten. Alhasil malam ini kami hanya cangkruk di lobi hotel sambil ngobrol-ngobrol diiringi hujan yang datang dan pergi. Tidak membuat kami sedih, karena malam ini kami bisa istirahat sambil bercanda.

PENGELUARAN HARI KE 3

Jajan Basah @1.000 x 15 = 15.000

Nasi Soto + Minum 10.000

Bus Trans Jogja PP 6.000

Tiket Prambanan 30.000

Lotek/Gado-gado + Minum 11.000

Tiket Vredeburg 2.000

TOTAL 74.000

Hari ke – 4

18 Januari / Jumat

This is the last day! Pagi-pagi kami packing supaya nggak kelabakan karena rencana kami hari ini adalah berburu oleh-oleh. Kami siap ‘menghamburkan’ uang kami hari ini. Selesai packing, kami berjalan di sepanjang Malioboro sambil melihat-lihat apakah ada barang yang menarik untuk dibeli. Toko di Malioboro masih banyak yang tutup, namun pasar kagetnya sudah banyak yang buka sepagi ini. Kami mampir di toko pia yang cukup terkenal, yaitu Raminten. Toko ini cukup unik dibandingkan dengan yang lain. Jika di depan toko kita bisa melihat ada sebuah dokar yang terpajang. Di sebelah dokar ada stan minuman es teh seharga 3.000. Untuk ini aku tidak rekomendasikan, karena selain nggak terasa teh, nggak manis. Ya kalau kamu doyan dengan air-teh-non-sugar bisa beli ini sambil menghilangkan dahaga.

Pembeli yang ingin membeli oleh-oleh makanan khas Jogja, seperti bakpia, atau kripik-kripik lainnya bisa langsung masuk ke toko yang ada di depan. Kalau toko yang di dalam, lebih menjual pakaian atau kain batik. Dan jika kuat dengan bau dupanya silahkan lihat-lihat. Harga satu kotak pia kecil-kecil (mini) adalah 13.000 dan yang standar 23.000, sedangkan kripik-kripik sekitar 12.000 per bungkusnya. Untuk packingnya, bagus sih pakai karton gitu. Tapi kalau beli banyak banget agak ribet juga, karena bawaan jadi tambah berat dan besar. Satu kotak karton itu bisa diisi 6 kotak pia. Jadi bisa dikira-kira lah ya…

Selesai membeli pia, kami mampir ke Pasar Beringharjo sebentar. Wah, bajunya bagus-bagus di sini. Kalau doyan dengan tempat belanja indoor, bisa datang ke sini. Pilihannya banyak dan tetep bisa ditawar. Setelah mengintip pasar Beringharjo, kami kembali ke hotel dengan membungkus nasi uduk rames seharga 7.000 di depan gang Sosro. Minumnya kami beli di Indomaret. Sambil menunggu cecowok sholat Jumat, kami beristirahat sambil menghabiskan sarapan+makan siang kami. Batas check out dari hotel sebenarnya jam 12 siang. Tapi karena cecowok harus Jumatan, jadinya kami menunggu petugasnya (cowok juga) selesai sholat. Begitu mereka datang, kami langsung check out dan berjalan menuju Stasiun Lempuyangan. Kereta kami datang jam 3 sore, pas setelah kami selesai sholat ashar. Dengan segenap keikhlasan, kami melepas kota Jogjakarta di belakang.

See you next time, Jogja~

Sesampainya kami di Surabaya, hari sudah malam sekali. Kami takut tidak ada angkot (angkutan umum) yang beroperasi. Alhasil kami mencarter sebuah angkot. Kami sampai di rumah Okti (lagi) dan tidur (lagi) sebelum esoknya kembali ke Malang dengan bis kota dengan membayar 20.000.

Yap, good trip good memories Friends~

Semoga ada lain kesempatan untuk membuat perjalanan yang lebih seru lagi!

TOTAL PENGELUARAN HARI KE 4

Oleh-oleh Pia @13.000/@23.000 x 5 = 115.000

Nasi Uduk Rames 7.000

Tiket Pasundan Jogja-Surabaya 38.000

Bis Surabaya-Malang -+ 20.000

TOTAL 180.000

Author:

http://www.facebook.com/nta.s.nta https://twitter.com/#!/esshinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s