Posted in Story of Me, Traveling

Backpacker (Nista) Malang – Surabaya – Jogja (Part 2)

16 Januari / Rabu (lanjutan)

Puas kami beristirahat dan bersih-bersih diri, setelah maghrib kami bersiap-siap untuk mengunjungi Pasar Malam Sekaten. Sekaten adalah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad (info lebih lanjut, klik link di atas). Karena kebetulan kami datang tepat disaat sekaten, jadi kami mampir ke alun-alun Keraton yang memang sengaja diadakan pasar malam untuk memeriahkannya. Nggak tahu juga ini pada tahu darimana, yang jelas malam itu kami berjalan dari penginapan kami menuju Keraton sambil melewati sepanjang toko di kawasan Malioboro. Denger-denger kalau yang jualan di Jalan Malioboro beda orang. Jadi kalau misal ke sana dan naksir sama barang , mending langsung ambil aja (jangan lupa ditawar). Soalnya pengalaman temenku kemarin gitu, dipikir besok masih ada, eh waktu dicari lagi nggak ketemu. Nggak tahu juga kalau ternyata salah inget tempatnya. Aku dan beberapa yang lain (ber-3 / 4) membeli sandal khas Jogja dengan harga 15.000/pasang. Yah walau masih bisa ditawar sih, tapi udah terlanjur suka sama modelnya dan yang jual nggak mau nurunin lagi, ya akhirnya diambil deh.

Sudah bertahun-tahun yang lalu terakhir aku berada di pasar malam. Kasihan banget ya. Padahal di Malang juga kayaknya sering ada pasar malam di Lapangan Rampal, cuma males aja ke sana. Tapi datang ke pasar malam ini seru! Apalagi bareng-bareng sama temen-temen. Event Pasar Malam Sekaten ini selalu ada setiap tahunnya pada malam sebelum perayaan Sekaten. Semoga terus ada deh, supaya makin banyak turis-turis yang dateng. Asik nggak asik sih, namanya pasar malam ya pasti rame banget. Jadi hati-hati sama barang bawaan. Buat ibu-ibu jangan taruh tas di belakang, tetap taruh di depan dan rangkul. Takutnya ada copet bahaya tuh!

160120131316

Di sini banyak yang dijual, mulai dari kebutuhan garmen (baju, celana kaos kaki, dll), makanan-minuman, aksesoris handphone, mainan, dll. Yang beli juga macem-macem, ada keluarga muda (ayah, ibu, anak masih kecil), rombongan rame-rame, dan ada juga pasangan muda-mudi. Beberapa dari kami juga sudah pasti belanja, apalagi Heni😀. Selain pasar yang didominasi oleh pedagang, ada juga yang nggak ketinggalan serunya, yaitu wahana-wahana permainan!!! Tapi kami nggak ada yang naik sih, soalnya rame banget dan antrinya panjang. Ada sih satu wahana yang kelihatannya sepi, Rumah Hantu. Tapi makasih deh…

Sambil berjalan-jalan, kami menemukan satu wahana permainan yang sangat menarik. Bukan karena permainannya yang seru (menurutku biasa aja), karena wahananya cuma berupa lingkaran yang nantinya diduduki penumpang, dan gimana caranya supaya seimbang. Setelah itu lingkaran tersebut akan naik sekitar 2 meter dan berputar-putar. Yang membuatnya jadi menarik adalah cowok-cowok yang petugasnya yang terdiri dari beberapa orang (5 orang lebih) beratraksi, bergelantungan pada wahana dan melakukan akrobat seperti salto atau menaiki wahana dan melompat ke atas tanah. Wah, keren deh pokoknya! Sayang kami lupa mengabadikannya, saking terpananya.

Puas kami mengelilingi Pasar Malam Sekaten, kami keluar dan menemukan kuliner yang kayaknya enak dan murah. Di depan pintu masuk alun-alun, banyak pedagang kaki lima yang menyambut kami. Kami iseng mencoba makanan ini, entah apa namanya.

Jadi makanan ini bisa minta mana aja yang mau dimakan, ada sate ayam, kambing, jeroan, kikil, telur puyuh, dll. Terus nanti dibakar di atas arang dan kalau mau ditambah potongan lontong, dan terakhir disiram bumbu kacang. Wah, rasanya makan ‘cemilan’ kayak gini di pinggir jalan sensasinya seru! Apalagi yang lain minum angsle sambil duduk di atas tikar yang dibeber di trotoar. Backpack-nya terasa banget!😀

Pilihan lauknya
Pilihan lauknya

This was what we eat
Ini yang aku makan *yummy*

Setelah puas kami menikmati seliweran pengendara motor di pinggir jalan, kami kembali ke penginapan. Sebelumnya kami sudah membeli nasi goreng untuk santap makan malam. Di kawasan Malioboro ini banyak banget penjual makanannya, jadi nggak usah takut kelaparan. Kalau kelaparan ya tinggal ke Indoma*t beli mie, terus diseduh. Selesai~

PENGELUARAN HARI KE 2:

Taxi ke Gubeng 47.000 : 4 = 12.000 (optional)

Tiket Pasundan 38.000

Makanan di kereta Pop Mie 6.000 | Pecel 3.000 (optional)

Penginapan WHW Hotel 60.000/orang (2 malam)

Cemilan / minuman / makanan Pop Ice 5.000 | Big Cola 4.000 | Teh Botol 7.000 | Nasi Goreng 7.000 (optional)

TOTAL 98.000 – 135.000 lebih

Hari ke-3

17 Januari / Kamis

Hari ini kami berencana untuk pergi ke Candi Prambanan. Kenapa nggak ke Candi Borobudur? Tentu karena masalah jarak dan biaya. Candi Borobudur ada di Magelang, jadi membutuhkan waktu perjalanan lebih lama. Jadi kami memilih untuk pergi ke Candi Prambanan. Nggak afdol rasanya ke Jogja tanpa mengunjungi candinya.

Pagi ini kami berangkat mencari sarapan terlebih dahulu. Begitu keluar dari Sosro, kami menemukan penjual kue basah di pinggir Jalan Malioboro. Kami membeli banyak karena kami bertujuh dan sedang kelaparan. Harga per-kue-nya berkisaran sekitar 1.000-1.500. Murah bangettttzzzz! Di kampusku aja paling murah 2.000, ini cuma 1/2 harga lho… Sebenarnya kue basah ini aku dan Mukti beli setelah kami semua sudah berjalan jauh dan memutuskan sarapan di warung soto depan gedung Bank BDP. Jadi kami kembali menuju Sosro untuk membelinya😀. Nasi soto ini berharga 6.000/porsinya. Walau jujur aku makan porsi ini nggak kerasa kenyang (dan anehnya yang lain bilang kenyang? amaze~).

Setelah menghabiskan semua makanan dan jajanan basah, kami berjalan menuju halte bus trans jogja. Akhirnya aku naik bus trans juga, setelah impianku naik bus trans jakarta belum kesampaian. Nggak papa lah, yang penting pernah naik (berasa cupu banget). Tiket bus trans jogja adalah sebesar 3.000/sekali berhenti. Jadi semisal kita mau ke suatu tempat yang membutuhkan pindah jalur, kita nggak perlu bayar lagi.

Bus trans jogja ini lebih kecil dari bus trans Jakarta. Perjalanan ke halte Prambanan ini cukup menyenangkan, karena nggak terlalu ramai. Jadi nggak ada penumpang yang berdiri, semuanya duduk. Sambil menikmati pemandangan Kota Jogja, kami berfoto-foto ria nggak peduli tatapan penumpang lain. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah halte, dan naiklah seorang bule (sepertinya neneknya) dengan seorang anak kecil dan duduk tepat di sebelahku. Yah karena kami sedang katrok-nya, ketemu bule berasa ketemu artis Hollywood dan kami serasa paparazi. Sayang anak kecil bulenya lagi nggak mood kayaknya. Karena setiap kami sapa dan beri senyum, dia hanya menatap tajam. (pic-nya ilang, nanti kalau ketemu saya upload)

Sesampai di halte Prambanan, kami turun dan mulai berjalan. Baru keluar dari halte langsung banyak bapak-bapak yang menawarkan naik delman mereka. Tapi karena kami sedang ngirit, kami pun menolaknya. Tarif naik delman menuju pintu masuk Candi Prambanan kalau nggak salah inget sekitar 100.000/5 orang. Yah, demi makan dan oleh-oleh, kami pun memilih untuk jalan kaki. Perjalanan yang cukup menguras tenaga karena disamping terik panas matahari yang menyengat juga jaraknya lumayan sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi karena rame-rame nggak terasa capek sih, ditambah trotoarnya lebar sangat jadi pejalan kaki bakal betah deh.

IMG-20130117-00534
Lebar trotoarnya bisa dilihat sendiri (sekalian nampang)

Setelah perjalanan yang melelahnyenangkan, akhirnya sampai juga di pintu masuk Candi Prambanan. Selesai berfoto dan beristirahat sejenak, kami berjalan menuju loket penjualan tiket masuk. Harga tiketnya terjangkau, hanya 30.000 saja. Nanti diberi tiket berupa kartu (kayak kartu ATM) terus di pintu masuk di tempelkan ke sensor. Kayak kereta api di Jepang gitu, cuma ini ada petugasnya yang arahkan. Setelah itu kartunya dibawa sama petugasnya. Ciaaa cuma pegang berapa detik doank.

Setelah masuk pintu, kita akan disambut hamparan lapangan yang luas dengan beberapa pohon yang cukup untuk berteduh. Di tengahnya ada tenda dengan persewaan jarik atau kain batik yang dimana turis yang datang diwajibkan memakainya. Terakhir ke sini sih nggak ada acara gini-ginian. Mungkin biar lebih terasa aja kalau berada di tempat wisata religinya. Jadi tidak ada pengecualian baik laki-laki atau perempuan yang berjilbab ataupun tidak.

Setelah itu kami berjalan menuju Candi Prambanan. Saranku adalah, kalau ke sini waktu siang lebih baik membawa payung. Karena terik matahari yang menyengat akan mengganggu perjalanan kita selama di sini. Karena mulai dari pintu masuk sampai candi kita akan berada di outdoor terus. Dan untuk pakaian, lebih baik yang berbahan dingin dan berwarna cerah, supaya nggak terlalu panas.

Jariknya di atas lutut dan nggak ribet. Jadi nggak usah khawatir kesrimpet atau bikin susah jalan.
Jariknya di atas lutut dan nggak ribet. Jadi nggak usah khawatir kesrimpet atau bikin susah jalan.

Setelah perjalanan dengan pemandangan tanaman hijau, kita nanti akan disambut sebuah jalan panjang yang ujungnya berupa Candi Prambanan yang mengintip dari balik pepohonan. View-nya bagus banget, dan nggak jarang dijadikan spot untuk berfoto. Fotografer bayaran sudah stay disini untuk mengabadikan momen indah. Tapi sekali lagi karena ngirit, kami memutuskan untuk foto sendiri. Tetep bagus kok hasilnya.

DSC_0149
Candi Prambanan sudah memanggil-manggil di ujung sana.

Candi Prambanan ini yang paling kelihatan yang di tengah, karena paling besar-besar. Candi-candi kecil di sekelilingnya sudah banyak yang runtuh dimakan usia dan bencana alam seperti gempa bumi. Tapi keindahannya tetap terjaga. Kami memasuki candi terbesar di tengah, yaitu Candi Siwa. Candi ini yang paling besar dan paling dijaga keutuhannya, karena gempa bumi berkali-kali membuat candi yang paling tinggi ini beberapa bagiannya runtuh. Setiap pengunjung yang mau masuk ke sini harus menggunakan helm. Tapi begitu keluar dari candi bisa dilepas. Di dalam Candi Siwa ini ada Arca Siwa tapi ditutup, mungkin karena alasan agamis. Jadi kami hanya melihat Arca Durga atau lebih dikenal dengan Roro Jonggrang. Agak horor juga sih, soalnya gelap gulita gitu.😀

Arca Durga atau Roro Jonggrang
Arca Durga atau Roro Jonggrang

Puas kami berkeliling mengagumi keindahan relief dan bentuk candi, kami beristirahat sejenak di tangga candi sambil menikmati pemandangan dan semilir angin sambil mengobrol ringan. Momen tak tergantikan ini membuat kami betah berlama-lama. Tapi waktu memaksa kami untuk melanjutkan perjalanan kembali ke kawasan Malioboro dan mengunjungi next destination.

Kami meninggalkan kawasan Candi Prambanan dengan melewati jalan di sebelah kanan. Kami disambut dengan pemandangan hijaunya sekali lagi. Jalan panjang dengan pepohonan tinggi nan rindang menyejukkan kepala kami yang lama tersengat matahari. Selagi kami berjalan, kami disambut berbagai edukasi centre seperti pameran foto tentang penemuan dan pemugaran candi, replika-replika candi, denah di kawasan candi, dan lainnya.

Selanjutnya kami disambut dengan pasar yang menjual oleh-oleh khas Prambanan maupun Jogja seperti gantungan kunci, pajangan atau replika candi, kaos bertuliskan Jogja atau Prambanan, dan lainnya. Tidak hanya itu, di sini juga menjual baju batik, tas, sandal, kerajinan gabah, aksesoris, macam-macam deh. Tapi tentunya dengan harga murah, lebih murah dari Malioboro.

Puas kami berbelanja, kami meninggalkan kawasan Candi Prambanan dengan (lagi-lagi) berjalan kaki menuju halte bus trans. Dengan membayar 3.000 kami sudah kembali ke Malioboro.

…….to be continue……

Author:

http://www.facebook.com/nta.s.nta https://twitter.com/#!/esshinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s