Posted in Analisa, Film

Analisa Film “Diary of a Wimpy Kid”

SINOPSIS

Diary of a Wimpy Kid (2010) adalah film yang diangkat dari novel berjudul sama oleh Jeff Kinney. Film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang pelajar menengah pertama bernama Greg Heffley (diperankan oleh Zachary Gordon) di sekolah barunya. Greg berusaha dengan berbagai cara untuk menjadi salah satu murid yang populer di sekolahnya, namun usahanya sering kali gagal karena berbagai alasan. (wikipedia)

ANALISA

PERKEMBANGAN FISIK DAN KOGNITIF

Pertumbuhan fisik pada masa pertengahan dan akhir anak-anak berlangsung lambat. Hal ini merupakan ‘masa tenang’ sebelum masa remaja yang pertumbuhannya mulai cepat. Di sini Greg mengalami peralihan dari Elementary School (Sekolah Dasar) ke Middle School (Sekolah Menengah). Namun perkembangan fisiknya termasuk anak yang belum mencapai masa remajanya, sehingga pertumbuhan fisiknya masih lambat seperti beberapa temannya, Rowley dan Chirag Gupta. Kaki mereka panjang, tubuh mereka lebih kurus (kecuali Rowley yang gemuk secara genetik) dan sistem otot telah terbentuk. Beberapa teman lainnya yang memasuki masa remaja telah berubah menjadi lebih tinggi dan ‘berambut’ mulai dari jenggot dan kumis hingga rambut ketiak yang merupakan ciri-ciri dari pubertas.

Anak-anak pada masa pertengahan dan akhir telah dapat mengendalikan tubuhnya lebih besar sehingga mereka dapat duduk dan berdiri dalam waktu yang lebih lama. Walaupun mereka masih membutuhkan kegiatan yang lebih aktif daripada pasif. Greg dan Rowley masih sering bermain secara fisik yang beresiko daripada secara mental, seperti melempar bola rugby ke arah yang mengayuh sepeda, berlari-lari, bermain bola, dan lain-lain walau terkadang mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan bermain video games.

Pada perkembangan kognitif Piaget, Greg masih berada pada tahap operasional konkret. Menurut Piaget, masa pertengahan dan akhir anak-anak memasuki tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak belum berpikir abstrak, masih berpikir tentang sesuatu yang pernah mereka lihat. Saat Greg memperlihatkan buku tahunan SMP kakaknya ke pada Rowley, dia meyakinkan Rowley bahwa menjadi anak yang populer dan fotonya terpasang di lembar “anak populer di sekolah” adalah suatu penghargaan tersendiri. Jadi mereka telah melihat bukti bahwa kepopuleran itu perlu dicapai. Atau saat Greg kehilangan Rowley untuk menjadi sahabatnya. Dia menyadari bahwa sahabat itu lebih penting daripada populer. Di sinilah pemikiran non-abstraknya, dia harus mengalami atau melihatnya sendiri sebelum akhirnya memahami. Selain itu mereka juga masih memiliki egosentrisme, di mana anak hanya melihat suatu hal atau peristiwa dari sudut pandang mereka. Namun, mereka mulai subyektif pada akhir tahap ini. Hal ini dapat dilihat di sepanjang film dari pemikiran Greg terhadap dunia di luar dirinya. Terutama saat peristiwa Greg meminjam jas hujan Rowley, saat Greg akhirnya memutuskan untuk tidak mengakui kesalahannya demi menjaga nama baiknya agar dapat menjadi populer.

Saat memasuki sekolah menengah, Greg melakukan penilaian kognitif, yaitu istilah yang digunakan oleh Lazarus yang menjelaskan interpretasi anak-anak terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan mereka sebagai sesuatu yang mengganggu, mengancam, atau menantang, dan determinasi mereka tentang apakah mereka memiliki sarana dan kemampuan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa itu secara efektif (Santrock, 2002). Dalam melakukan penilaian kognitif terdapat dua langkah, yaitu penilaian primer dan penilaian sekunder. Penilaian primer merupakan interpretasi apakah suatu peristiwa mengandung kerugian atau kegagalan yang sudah terjadi, suatu ancaman akan bahaya di masa depan, atau suatu tantangan yang harus dihadapi.  Sedangkan penilaian sekunder adalah penilaian terhadap diri sendiri dan penentuan seberapa efektif mereka dapat menghadapinya. Penilaian sekunder baru dilakukan setelah penilaian primer. Di sini Greg menilai bahwa kepopuleran itu sangat penting karena di akhir tahun terdapat foto anak populer di buku tahunan.

Penilaian selanjutnya adalah dia merasa mampu mencapai kepopuleran tersebut. Pertama dia merangking kepopulerannya di antara teman-temannya. Lalu dia berusaha untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dia anggap dapat menaikkan kepopuleran dirinya. Saat dia tidak mampu mencapai keinginannya malah menjadi anak yang tidak populer, dia mulai merasa stres. Stres adalah respons individu terhadap keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa (stressor) yang mengancamnya dan mengurangi kemampuannya dalam mengatasi bentuk stressor.

PERKEMBANGAN SOSIOEMOSINAL

Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak-anak lebih banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Sehingga memungkinkan mereka memiliki sahabat atau teman karib. Sahabat adalah teman-teman yang selama berjam-jam melakukan kegiatan bersama setiap harinya. Sahabat memiliki enam fungsi, yaitu kawan, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakraban atau afeksi (Gottman & Parker dalam Santrock, 2002).

  1. Kawan: pasangan dan teman main yang akrab, mau meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama-sama.
  2. Pendorong: memberi informasi, kegembiraan, dan hiburan.
  3. Dukungan fisik: memberi waktu, sumber-sumber, dan bantuan.
  4. Dukungan ego: memberi harapan dukungan, dorongan semangat, dan umpan balik yang menolong mereka mempertahankan kesan menarik, kompeten, dan berharga.
  5. Perbandingan sosial: memberi informasi tentang posisi anak berhadapan dengan anak lain dan apakah anak melakukan sesuatu dengan baik.
  6. Keakraban/afeksi: memberi hubungan yang hangat, erat, dan saling percaya.

Persahabatan antara Greg dan Rowley membuktikan keenam fungsi di atas. Seperti fungsi ke lima, di mana Greg dengan jelas selalu melakukan perbandingan dirinya dengan Rowley. Menurut Sullivan,  sahabat berperan dalam pembentukan kesejahteraan yang memiliki kebutuhan-kebutuhan sosial dasar seperti kelembutan hati, pertemanan yang menggembirakan, penerimaan sosial, keakraban, dan relasi seksual. Pemenuhan kebutuhan ini menentukan kesejahteraan emosional. Sehingga apabila kebutuhan akan pertemanan yang menggembirakan tidak terpenuhi, maka anak akan merasa depresi dan bosan seperti yang dialami Greg.

Selain itu parenting style (pola asuh orang tua) dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Di sini pola ash orang tua Greg termasuk Authotitative di mana orang tua selalu mendukung keberhasilan atau keinginan anak dan tidak menyalahkan kesalahan anak namun memberi kontrol. Seperti saat Greg mengikuti kegiatan gulat di sekolahnya. Di saat kakak laki-laki Greg mengejeknya karena tubuh Greg yang kecil, ayah Greg malah mendukungnya sehingga membuat Greg senang dan percaya diri (terlihat dari senyumnya yang lebar). Selain itu saat Greg memiliki masalah dengan sahabatnya, Rowley, ibunya tidak menyalahkan namun malah memberikan bantuan agar hubungan mereka kembali baik. Dukungan orang tua di sini dapat membantu anak untuk selalu percaya diri dalam memutuskan sesuatu (inisiatif), seperti tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson. Walau sebenarnya hubungan antara dukungan orang tua dengan tahap perkembangan Erikson tidak mutlak berpengaruh, namun berkorelasi karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam melewati tahap perkembangan Erikson.

Author:

http://www.facebook.com/nta.s.nta https://twitter.com/#!/esshinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s